Wisata Halal Penggerak Roda Perekonomian Masyarakat dengan Sistem OVOP

Oleh: Fajar Sukma

IAINĀ Imam Bonjol Padang

Konsep halal saat ini telah berkembang, bukan hanya mengarah pada makanan, obat-obatan dan kosmetika. Namun sekarang telah berevolusi ke berbagai bidang, seperti keuangan, trend gaya hidup dan lainnya. Dalam gaya hidup seperti dalam hal pariwisata berkembang sangat signifikan. Wisata halal tidak hanya dikembangkan oleh negara yang mayoritas muslim, namun juga negara yang memiliki muslim yang minoritas. Industri pariwisata halal memberikan prospek keuntungan yang sangat besar, mengingat jumlah penduduk dunia muslim yang besar dan trend gaya hidup halal yang semakin mencuat.
Indonesia sendiri memiliki daerah pariwisata halal yang banyak dan beragam. Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan tersendiri, jadi setiap wisatawan akan merasakan banyak hal yang berbeda karena setiap daerah memiliki keunikan tersendiri. Ini merupakan suatu peluang yang sangat besar dalam pengembangan wisata halal dalam perbaikan ekonomi nasional. Indonesia memiliki daerah yang indah, kental budaya, makanan yang beragam dan yang jelas halal.
Sebagai contoh pendapatan yang diterima negara Singapura dalam wisata halal, negara yang minoritas muslim ini mampu mengembangkan wisata halalnya hingga akhir tahun 2015, pertumbuhan industri wisata halal dapat dikatakan sebagai pertumbuhan terbesar dibandingkan dengan jenis wisata pada umumnya, karena wisata halal tumbuh 100% lebih cepat dan akan menjadi generator besar bisnis lansung jangka panjang dengan pendapatan maksimum yang diprediksi mencapai $200 milyar pada tahun 2020.
Dilihat dari angka diatas Singapura yang memiliki muslim minoritas mampu meyakini prediksi pada tahun 2020 pendapatan maksimum $200, bukan angka yang kecil. Indonesia seharusnya bisa lebih dari itu, karena Indonesia memiliki banyak hal yang bisa dikembangkan dan dijual kepasaran. Indonesia sebagai mayoritas muslim memiliki pekerjaan rumah memaksimalkan pengunjung dalam negeri, karena banyak negara-negara luar membidik wisatawan dari Indonesia datang ke negara mereka. Jadi target awal Indonesia adalah penduduk sendiri baru negara lain.
Dilihat dari keberagaman yang ada, Indonesia harusnya bisa mengembangkan sistem pariwisata halal yang mumpuni. Sebuah konsep yang yang dapat menjadi daya tarik yang tidak ada habis-habisnya bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. Sebuah konsep yang dikembangkan oleh Prof. Morihiko Hiramatsu yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Oita, Jepang yaitu OVOP (One Village One Product) cocok dikembangkan di Indonesia yang setiap daerahnya memiliki karakteristik dan keunikan sendiri. Konsep ini mengembangkan kearifan lokal menjadi suatu produk yang berkualitas global. Konsep ini sangat selaras dalam pengembangan pariwisata halal yang mengedepankan budaya lokal, sehingga nantinya selain menjaga keasrian budaya lokal juga akan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat dalam pengembangan ini, setiap daerah tidak lagi saling memangsa pangsa pasar karena setiap daerah memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Tentu ini sangat cocok bagi pengembangan wisata halal yang ada di setiap daerah, tempat wisata yang semakin ramai akan menciptakan pasar sendiri bagi masyarakat dan bisa menambah lapangan pekerjaan. Nanti hasilnya akan menciptakan pasar persaingan sempurna dimana semua bisa dengan bebas masuk pasar tanpa hambatan dan tentunya akan meningkatkan daya saing dalam pengembangan kualitas barang dan jasa dalam rangka bertahan dalam pasar. Intinya semua akan dapat dirasakan oleh berbagai pihak, konsumen dan produsen. Konsumen akan mendapatkan barang dan jasa yang berkualitas, sedangkan produsen akan mendapatkan keuntungan dari konsumen yang ada.
Ini akan menjadi penggerak ekonomi nasional, apabila pendapatan masyarakat naik, daya beli juga akan naik, dan akan menggerakkan roda perekonomian negara. Hal ini tentu menjadi peluang besar yang harus dikembangkan untuk memperkuat perekonomian negara dengan pengembangan pariwisata halal yang memberikan keuntungan jangka panjang yang besar apabila dikembangkan dengan cara yang benar.
Permasalahan seperti kemiskinan dan pengangguran akan berkurang apabila Indonesia mampu mewujudkan pengembangan wisata halal yang baik. Untuk pengembangan ini, semua pihak dituntut untuk turut ikut serta dalam pengembangannya, tidak hanya pemerintah sebagai fasilitator, namun juga sektor swasta dan masyarakat yang nantinya akan membuat pariwista halal menjadi lebih bewarna. Untuk pengembangan pengetahuan tentang potensi wisata halal ini harus dikembangkan terutama pada masyarakat yang masih awam, agar nantinya masyarakat bisa bekerjasama dalam pengembangan wisata halal dan mengurangi ketidaknyamanan pengunjung nantinya, seperti pungutan liar dan sebagainya, apabila masyarakat telah paham betapa pentingnya potensi ini, maka akan lebih mudah untuk menjalin kerjasama guna peningkatan pariwisata halal untuk lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *