Rakernas
Rakernas V
Artikel Biasa
Ada Apa Sama Ekonomi Kita? | Ada Apa Sama Ekonomi Kita? |
|
|
|
| Tuesday, 20 November 2007 | |
|
Sekilas kalo kita perhatikan dan emang udah diklaim sama para ekonom konvensional, inti dari masalah ekonomi dari jamannya kakek nenek kita masih gaul 'n funky sampe sekarang yang emang kakek nenek kita masih kayak gitu juga (kalo belum nyadar juga siy...) kayaknya masalah ekonomi cuma mudeng di masalah kelangkaan. Artinya... masalah ekonomi ditujukkan pada gimana sih caranya mengatasi kondisi kelangkaan akan sumber daya ekonomi yang sekarang lagi kita hadapi. Terus ramai-ramai dech para pemikir ekonomi konvensional mengeluarkan unek-unek mereka tentang cara yang paling efektif untuk keluar dari masalah ini. Terus berlajut ke solusi gimana cara memuaskan keinginan manusia yang katanya tak terbatas, sedangian mereka memiliki akses atau kemampuan mengelola sumber daya ekonomi yang katanya terbatas (langka).
Hari ini, kita lihat kemajuan berupa kelengkapan infrastruktur, fasilitas dan kemajuan teknologi yang semakin memudahkan hidup dan kehidupan kita menjadi klaim sebuah kesuksesan pembangunan ekonomi konvensional. Gedung-gedung yang megah, transportasi yang makin hari makin memendekkan waktu, telekomunikasi yang semakin buat kecil dunia, udah jadi prasasti ekonomi konvensional. Semua itu menjadi jejak betapa ekonomi modern telah berperan dalam pembangunan peradaban umat manusia. Setelah runtuhnya ideologi komunisme, kekuatan pasar jadi satu-satunya kekuatan yang paling istiqomah dipertahankan mati-matian oleh para ekonom modern saat ini. Prinsip kepuasan individu pun dibela bukan cuma dari Sabang sampai Merauke aja, tapi dari kutub utara sampai kutub selatan. Instrumen-instrumen yang dibuat untuk menunjang pembangunan ekonomi akhirnya konsisten sama prinsip umum tersebut. Terus... mau nggak mau parameter kemegahan dan keberhasilan pembangunan ekonomi direfleksikan oleh variabel-variabel jumlah materi yang udah dihasilkan oleh pelaku-pelaku ekonomi. Nggak heran kalo kemudian prilaku ekonomi dari individu-individunya sangat tergantung banget sama paradigma kekuatan pasar (kapitalisme), kepuasan individual (individualisme) dan materialistik (materialisme). Nah... di sini dah permasalahannya bisa kelihatan. Dalam aplikasinya, tujuan dan praktek ekonomi modern nggak berjalan seiringan louch! Kalo kata Melly Goeslaw "gantung" gitu dech... Keduanya nggak pernah bisa ketemu pada puncak pencapaian ekonomi. Malah yang terjadi adalah kontradiksi dan paradoks antara praktek dan tujuan, kerja dan harapan serta prilaku dan cita-cita. Kekacauan ekonomi kerap dan selalu terjadi, baik berupa krisis ekonomi maupun berbentuk kekacauan sosial. Pembangunan nggak malah ngasih kemakmuran yang merata namun semakin menunjukkan jurang ketimpangan yang semakin dalam (sumur kali...). Kemegahan ekonomi yang udah kita alami nggak semakin buat kita bersifat sosial yang mengedepankan nilai persaudaraan dan kekeluargaan tetapi malah membentuk dan menciptakan manusia-manusia yang rakus. Kue pembangunan makin lama makin menggunung disisi pemilik-pemilik sumber daya sementara individu-individu yang tak berpunya semakin banyak jumlahnya, yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin makin sengsara. Bahkan angka kematian akibat kemiskinan jauh lebih besar jumlahnya daripada jumlah kematian akibat peperangan, pengangguran pun meningkat, inflasi yang merongrong daya beli semakin melangit, kriminalitas dan konflik-konflik sosial menjadi peristiwa keseharian yang menunjukkan ketimpangan sosio-ekonomi, kalo kata iklan biskuit... "sudah tradisi..." Hasil-hasil pembangunan yang diklaim selama ini berhasil tentunya bisa kita bantah dengan melihat fenomena kayak gini aja, bukan? Nah...! Kalo kayak gitu bisa dong kita simpulkan bahwa yang terjadi adalah kekacauan ekonomi bukan pembangunan ekonomi, karena kalo yang terjadi pembangunan seharusnya hasil pembangunan adalah sosio-ekonomi yang tertata, sembako yang merata, kemegahan dan kecanggihan fisik ekonomi berjalan bergandengan dengan mesra sama kemakmuran sosialnya, daya beli terhadap sumber daya ekonomi akan selalu dimiliki oleh setiap individu, stabilitas ekonomi akan terjaga demi kelanjutan pembangunannya. Nggak kayak sekarang bukan? Akhirnya sekarang kita nggak bisa dibohongi lagi bahwa ternyata dalam lebih dari satu abad ini perekonomian modern cuma menghasilkan manusia-manusia ekonomi yang materialistik, individualistik dan konsumeristik. Bukankah masalah moral semakin menunjukkan wajahnya dalam ekonomi modern ini? Terus gimana dong? Gimana menjawab ini semua? Gimana menjawab masalah hidup dan kehidupan kita dalam aktifitas berekonomi? Apa nggak cukup sama yang udah dibangun oleh kakek nenek kita yang sampe sekarang terus gaul 'n funky juga? Tidak begitu canggihkah pemikiran dan teknologi sehingga masalah ini menjadi berlarut-larut dan membuat berantakan apa yang sudah dibangun dengan susah payah? Oke... sekarang mari kita urai dengan sederhana kusutnya masalah ini. Kompleksnya masalah ekonomi ini kalo kita telusuri lebih jauh akan berpuncak pada satu masalah (ya iya lah... namanya juga puncak). Masalah tersebut adalah tentang prilaku ekonomi individu. Kayak yang dibilang sama Aa Gym bukan? Mulai dari diri sendiri. Masalah ini berpusat pada proses terbentuknya perilaku ekonomi, sehingga tumpuan perhatian untuk memecahkan ini semua terletak pada faktor-faktor pembentuknya seperti idiologi, tata nilai hidup dan kehidupan, paradigma teori dan praktek ekonomi serta sasaran atau tujuan aktifitas ekonomi. Duuh... jadi bingung yach? Jadi gini nich, kalo faktor-faktor pembentuk dari perilaku ekonomi nggak beres, so ujung-ujungnya pun nggak akan beres, jadi kita perlu sebuah sistem ekonomi yang punya idiologi yang kuat dan bernilai moral yang baik, yang selalu harmonis antara gagasan dan tindakan, praktek dan tujuan, kerja dan harapan serta prilaku dan cita-cita. Tambah bingung? Tenang-tenang... itu berarti kamu masih normal... Nah... sekarang coba dech kita cari, Ada nggak sih sistem ekonomi seperti yang kita harapkan di atas? Coba kita lirik sedikit ke kanan! Ada si Udin! Ups bukan itu... sampingnya lagi! Waaah bercahaya! siapa sih? Itulah Islam! Islam sebagai sistem hidup dan kehidupan manusia yang syamil dan mutakamil sangat tepat untuk menjadi sumber hukum dan rujukan dalam hidup kita, termasuk pengembangan ekonomi. Bersumber dari Allah yang menciptakan kita membuat Islam mengeliminasi risiko tercemarinya sistem ekonomi dari kelemahan sistem yang berasal dari manusia, karena kelemahan konvensional berawal dari hal ini, dimana kelemahan alamiah (fitrah) dari manusia menjadi build in dalam sistem yang mereka ciptakan. Ibaratnya kalo kamu beli HP, pasti si pembuat HP akan membuat buku panduan tentang cara penggunaan HP tersebut bukan? Tujuannya apa? Ya biar HP tersebut nggap cepat rusak khan? Begitu juga manusia dan Penciptanya. Pasti Sang pencipta manusia akan membuat "buku panduan" agar manusia nggak rusak. Apa mungkin seorang tukang sayur bisa membuat buku panduan HP-nya yang dia sendiri nggak paham banget tentang seluk beluk HP tersebut. (Hebat yach...?! sekarang tukang sayur aja sudah punya HP sendiri!) Lalu, kayak apa sih bentuk ekonomi yang ditawarkan Islam? Nggak jauh beda sama ilmu-ilmu lainnya, Islam juga punya sistem yang syamil dan mutakamil loh... termasuk dalam masalah ekonomi. Kayak sebuah rumah, pasti kokoh nggaknya tu rumah tergantung sama pondasinya, bukan? Kalo pondasinya rapuh, so pasti tinggal menghitung hari aja itu rumah bakalan roboh. Tapi kalo pondasinya kuat sekuat macan (emang biskuit...), mau diterpa angin topan, hujan badai atau gempa tektonik plus vulkanik sekalipun, bakalan terus berdiri kokoh. Nah gitu juga dengan Islam. Akidah yang kokoh berisi tentang tauhid pengakuan dan keyakinan yang kuat kepada Allah, Sang Penguasa Alam dengan segala konsekuensinya pada pola pikir, emosi dan perilaku dalam aktifitas keseharian kita jadi elemen utama dalam kita berekonomi (Ingat! Materi Syahadatain). Apalagi di Islam kita punya uswatun hasanah, yang patut kita teladani yaitu Rasulullah SAW. Dengan segala kemuliaan akhlaknya dalam berperilaku dan bergaul, bisa membuat hidup makin hidup dari kehidupan yang sebenarnya. Islam mengajarkan kita untuk nggak hidup bermewah-mewahan, nyari kerja yang halal, selalu ingat zakat, infak dan shodaqoh, menjauhi riba dan nilai nilai moral lainnya yang nggak lain dan nggak bukan adalah rangkuman dari akidah, akhlak dan syariah yang menjadi rujukan utama ekonomi Islam. Dari nilai-nilai ini bisa tergambar bahwa ekonomi Islam itu nggak cuma bertumpu pada pemuasan individu aja, tapi juga ada interaksi kolektif. Emang kita nggakdilarang untuk kaya-raya bahkan dianjurkan, tapi dalam islam ada aspek pengendalian agar si kaya mau peduli juga sama si miskin. Dengan nilai-nilai yang kayak gitu bisa terlihat bahwa ekonomi Islam beda banget dong sama ekonomi konvensional. Tolak ukur kepuasan nggak lagi terpatok cuma pada kepuasan individu aja. Adanya pembagian yang adil antara individu dan kolektif jadi ciri khas utama dalam ekonomi islam. Dengan nggak diikutserkannya riba, spekulasi, judi dan konco-konconya serta berjalannya mekanisme zakat, bagi hasil dan istrumen yang sejalan dengan itu bisa membuat perilaku ekonomi mendekati full employment dengan pasar yang bergairah dan nggak takut sama makhluk yang bernama inflasi akibat dari kesalahan sistem dan pemain-pemainnya. Nah... kalo itu dah berjalan, tinggal kita demo ke DPR (Ups! Bukan provokator niy...) buat mendukung sistem ini lewat penerapan infrastruktur yang oke dan peraturan-peraturan yang membuat aktifitas ekonomi Islam lebih stabil. Jangan lupa juga kita minta ke mereka untuk membuat mekanisme pasar yang adil serta memelihara prinsip-prinsip syariah dalam mekanisme tersebut. Nah... kalo itu juga dah berjalan dengan harmonis tanpa ada dusta diantara kita... tinggal kita terapkan dech dengan konsisten pada nafas-nafas akidah, syariah dan akhlak yang udah kita bahas tadi. Bukan nggak mungkin loh pertumbuhan ekonomi yang mensejahterakan dan stabil akan terjadi, baik fisik maupun sosial masyarakatnya. Interaksi dan pembangunan dengan tidak terbatas dari kacamata individu tapi juga kolektif makin menegaskan bahwa ekonomi islam merupakan satu-satunya solusi untuk mencapai tujuan yang sebenarnya dari kesejahteraan bersama. Terus... gimana teori perilaku ekonominya? Kayak apa mekanisme sama mikro dan makroekonominya? Gimana sama nasib teori keseimbangan umum, kebijakan-kebijakan untuk pembangunan ekonomi dan teori-teori lain sebagainya? Hmmm tunggu berita selanjutnya... |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
"Pemuda, janganlah berkecil hati dan patah semangat. Ingat, kita terus berperan dalam sosialisasi Ekonomi Syariah terutama bagi mereka yang baru mengenalnya. Saya berharap FoSSEI tidak cepat puas untuk sosialisasi ekonomi syariah ke berbagai kalangan."
-Muliaman D. Haddad, Deputi Gubernur Bank indonesia-
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||