Oleh : Wa Ode Porimata Putri Syahrudin_KSEI Progres/STEI TAZKIA

Rasulullah SAW bersabda, ”Dan sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain’’(HR Thabrani dan Daruqutni). Salah satu yang dapat dilakukan sehingga dapat bermanfaat bagi orang adalah dengan melakukan wakaf. Wakaf adalah Sedekah Jariyah, yakni menyedekahkan harta kita untuk kepentingan ummat. Harta Wakaf tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan. Karena wakaf pada hakikatnya adalah menyerahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah atas nama ummat. Lalu seperti apa optimalisasi dari wakaf agar manfaatnya bisa berimpek makro bagi ummat?

Di Indonesia sendiri wakaf diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004. Dengan adanya peraturan terkait wakaf, hal ini menunjukan bahwa wakaf memiliki potensi untuk memajukan kesejahteraan umat di Indonesia. Berdasarkan data dari kementrian agama bidang pemberdayaan wakaf, potensi tanah wakaf di Indonesia sebesar 3,7 miliar m2 dengan potensi ekonomi sebesar Rp 370 triliun. Selain itu, berdasarkan identifikasi Bank Indonesia tahun 2016, luas tanah wakaf di Indonesia adalah 4.359.443.170 m2 terdiri dari 435.768 lokasi dengan rincian 287.160 lokasi bersertifikat. Jika dilihat dari jumlah penduduk, menurut data sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia memiliki penduduk sebesar 237.641.326 orang, yang muslim sebesar 87,2% atau sekitar 207.176.162 orang.

Jika diilustrasikan apabila 150 dari 207 juta penduduk muslim yang melaksanakan wakaf Rp 100.000 per bulan. Total uang wakaf yang terkumpul dalam satu bulan Rp 15 triliun, dan dalam setahun dapat terkumpul sebanyak Rp 180 triliun. Tentu dana dari wakaf ini dapat didistribusikan pada sektor-sektor yang membantu rakyat dalam memajukan taraf hidup. Diantaranya adalah di distribusikan pada UMKM di seluruh Indonesia sebesar 20% dari total seluruh uang wakaf. Maka setiap daerahnya dapat memperoleh dana Rp 1 triliun.

Alokasi dana dari wakaf berdasarkan estimate diatas apabila dapat dikelola dengan baik serta pendistribusinnya teralokasi tepat sasaran maka dapat memberdayakan masyarakat. Kepentingan UMKM sekarang adalah mendapat penanganan secara khusus dalam setiap lingkup daerah. Berhubung Indonesia adalah negara kepulauan dengan pemberian otonomi bagi setiap daerah sehingga diperlukan management pemberdayaan wakaf yang baik disetiap daerah. Contoh kasus di Kabupaten Wakatobi, sebagai salah satu daerah destinasi prioritas pariwisata nasional Wakatobi memiliki potensi pasar yang besar dalam memajukan perekonomian melalui UMKM. Namun menurut Kabag Industri Kreativ Kabupaten Wakatobi UMKM daerah Wakatobi terhambat pada pengembangan produk dan pemasaran. Sebagaimana Data Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan berikut beberapa masalah utama yang menghambat majunya UMKM di Indonesia yang sekiranya dapat terselasaikan dengan dana wakaf yang efisiensi dan efektiv penggunaannya:

1. Pembiayaan
Pembiayaan masih menjadi kendala utama dalam berkembangnya UMKM. Sulitnya dalam melakukan kredit pada perbankan disebabkan adanya beberapa persyaratan yang membuat hambatan bagi para pelaku usaha UMKM untuk memperoleh modal. Padahal sebenarnya banyak UMKM yang berpotensi besar namun terhambat oleh pembiayaan. Dalam hal ini dana wakaf dapat menjadi solusi sebagai pemberi modal dengan akad-akad kerja sama sebagaimana islam mengatur. Meniadakan bunga pada peminjaman serta memudahkan admisnistrasi para pelaku usaha.

2. Teknologi dan Inovasi Produk
Di era sekarang dalam berbisnis suatu usaha pasti dihadapkan dengan persaingan antar sesama pelaku usaha maupun badan usaha. Begitu pula dengan UMKM yang sering kesulitan berhadapan dengan ekspansi produk dari usaha lain. Oleh karena itu, kemapanan dan kepekaan terhadap teknologi dan inovasi harus ditingkatkan. Dana wakaf berperan penting dalam hal ini yaitu menfasilitasi para pelaku UMKM untuk diberi sosialisai dan pelatihan soft skill. Selain itu juga menghadirkan teknologi-teknologi baru yang dapat dipakai untuk meningkatkan produksi UMKM.

3. Riset Pasar
Riset pasar diperlukan dalam mengetahui peluang pasar, tren pasar, model promosi, pesaing, selera konsumen, serta kebutuhan konsumen yang masih belum tersedia. Sehingga perlu adanya kerja sama dengan para pelaku riset (mahasiswa). Tentu saja riset memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit dimana dana wakaf dalam melakukan perannya untuk melakukan pembiayaan pada riset. Jadi sebelum membentuk UMKM pada suatu wilayah terlebih dahulu mengadakan riset yang hasil dari riset itu dapat dijadikan analisis SWOT terhadap pelaksanaan UMKM.

UMKM merupakan jantung perekonomian di Indonesia yang perlu mendapat perhatian dalam usaha untuk mengembangkannya Menurut data dari dari kompasiana.com UMKM di Indonesia baru menyumbang sebesar 61% terhadap PDB. Kelemahan UMKM terletak pada pembiayaan dan teknologi. Hal ini tentu bisa teratasi oleh dana wakaf yang apabila dapat dikelolah dengan baik. Dana wakaf mempunyai potensi besar membangkitkan UMKM di Indonesia. Namun semua ini perlu management yang baik. Perlu adanya lembaga-lembaga terintegritas untuk melakukan pengelolaan keuangan dana wakaf. Dengan harapan bahwa management yang baik pada dana wakaf memberikan sentuhan nyata terhadap permasalahan UMKM di Indonesia. Sehingga dua unsur masalah yaitu Indonesia butuh UMKM maju, UMKM maju butuh pembiayaan bisa terpenuhi.

footnote
1. Binas Islam, “Wakaf Tanah di Indonesia Belum Dikelola Secara Produktif”, diakses dari http://bimasislam.krmrnag.go.id/post/berita/wakaf-tanag-di-indonesia-belum-dikelola-secara-produktif, 2015 .
2. kbc6, “Kadin: Empat kendala penghambat pengembangan UMKM”, diakses dari http://www.kabarbisnis.com/read/2845011, 2017.

Categories:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TEMILNAS XX
Mars FoSSEI