Resensi Buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin

Oleh Muhammad Basith A.

Judul Asli         : Majmu’ah Rasail Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna

Penulis              : Hasan Al-Banna

Penerbit            : Daarud Dakwah, Iskandaria, Mesir

Penerjemah       : Anis Matta, Rofi’ Munawwar, dan Wahid Ahmadi

Judul Terjemah : Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin

Penerbit            : Era Intermedia, Solo Jawa Tengah, Indonesia

Tebal                 : 304 Halaman

Isi resensi

Buku ini merupakan buku yang amat luar biasa. Dari judulnya saja, Majmu’ah Rasail, dalam Bahasa Indonesia bermakna “Risalah Pergerakan” yang menggambarkan kekhasan buku ini. Ya, mengenai pergerakan. Berupa kumpulan surat-surat, makalah serta transkrip pidato yang pernah diutarakan oleh seorang ulama terkenal, termasyhur, pelopor pergerakan terbesar di dunia (Ikhwanul Muslimin), yaitu Syaikh Allamah Hasan Al-Banna.

Tentang siapa dan bagaimana sosok Hasan Al-Banna telah dipaparkan dalam buku ini dengan jelas mendetail. Beliau dipandang sebagai tokoh pembaharu islam. Dengan pemikirannya, beliau mampu melihat realita yang ada, dan merumuskan idealita yang semestinya. Dilahirkan pada tanggal 14 oktober 1906 di sebuah desa terpencil bernama Mahmudiyah, kawasan Buhairah, Mesir. Beliau telah menghafal Al-Qur’an sejak usia 12 tahun. Beliau mewariskan dua karya monumentalnya, yaitu Catatan Harian Dakwah dan Kumpulan Surat-Surat yang sekarang sedang pembaca lihat resensinya. Dengan segenap karakter yang dimiliki beliau, bisa dibilang Hasan Al-Banna telah layak menjadi representasi dari tokoh kebangkitan islam di abad 20. Sedangkan, gerakan yang diinisiasi beliau, yang tak lain ialah Ikhwan Al-Muslimin, merupakan tanggapan beliau atas krisis yang melanda umat islam abad ini.

Buku ini berisi pemikiran-pemikiran beliau tentang dakwah, pandangan Hasan Al-Banna mengenai paham-paham yang beredar di masyarakat seperti nasionalisme, surat untuk mahasiswa terkait pergerakan-pergerakan mereka, aqidah, doa-doa yang dinukil dari Al-Ma’tsurat, surat-surat terkait ekonomi kala itu, juga bahasan Arkanul Bai’ah. Buku ini merupakan masterpiecenya Hasan Al-Banna yang menjadi rujukan saudara-saudara kita dari pergerakan Ikhwanul Muslimin, sejak dari masa beliau hingga saat ini. Artinya memang buku ini selalu relevan dengan segala zaman. Dengan gaya bahasa yang indah, mudah dimengerti dan retorikanya yang mengguncang dunia, buku ini sangat cocok bagi pengemban dakwah saat ini.

Dari segi konten, buku ini dituliskan dalam 18 bab, yaitu; risalah ta’lim, nidzhamul usar, dakwah kami, apakah kita para aktivis, kepada manusia, menuju cahaya, risalah jihad, mu’tamar keenam, mar’ah muslimah, kepada apa kami menyeru manusia, dibawah naungan Al-Qur’an, Al-Ma’tsurat, Al-Aqaaid, kepada para pemuda secara khusus mahasiswa, dakwah kami di jalan baru, antara kemarin dan hari ini, muktamar kelima, dan agenda persoalan kita dalam kacamata system Islam. Risalah ta’lim merupakan rumusan atau SOP dalam sebuah gerakan Islam. Di dalamnya terdapat rukun-rukun bai’at (arkanul-bai’ah) dan kewajiban-kewajiban seorang mujahid. Selama ini ‘bai’at’ hanya dikenal dengan makna janji setia untuk mengamalkan wirid tertentu atau untuk ta’at kepada figur syaikh tertentu. Risalah ta’lim hadir dengan penjelasan batasan-batasan bai’at yang dibutuhkan dewasa ini.

Pada bagian ‘Al-Ma’tsurat’, membahas tentang wirid dan dzikir harian yang senantiasa menjadi kebiasaan para aktivis Islam. Di situ disampaikan dzikir-dzikir harian yang ma’tsur, berdasarkan dalil-dalil yang shahih.  Secara tekstual, kalimat-kalimat dzikir juga dituliskan. Mulai dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi do’a dan pengingat kepada Allah. Juga dzikir-dzikir yang dianjurkan dan biasa dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabat. Terdapat pula do’a-do’a harian yang dianjurkan agar dilakukan pada setiap kesempatan. Al-Aqaaid merupakan bagian yang membicarakan tentang masalah ‘aqidah Islamiyah. Disitu disampaikan seputar konsep dasar ‘aqidah dalam Islam. Bagaimana bahwa Islam sangat menghargai akal manusia beserta dalil-dalilnya. Disampaikan pula tentang Asmaa’ul Husna yang berjumlah 99 dan bagaimana kontekstualisasinya dalam kehidupan yang juga disertai dalil ‘aqli maupun naqli.

Dalam buku Risalah Pergerakan ini, memuat juga pidato Hasan Al-Banna dalam Muktamar Ikhwanul Muslimin yaitu Muktamar Kelima dan Keenam. Muktamar kelima (Muktamar Al Khamis) secara umum memuat tujuan dan karakteristik dakwah Ikhwanul Muslimin, wasail (perangkat) dan khuthuwat (langkah-Iangkah) manhaj Ikhwanul Muslimin dan sikap ikhwan terhadap jamaah-jamaah lain. Sedangkan, dalam muktamar keenam menjelaskan dan memberikan reorientasi gerakan jama’ah Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan dakwah yang melandaskan dirinya pada keislaman yang murni. Memberi tanggapan tentang kondisi Mesir dan pandangan tentang pengaruh pemikiran barat pada sistem kemasyarakatan. Pada bagian ‘Agenda Persoalan Kita dalam Kacamata Sistem Islam’ menyikapi beberapa problematika umat dan solusinya. Dalam hal ini, Asy-Syahid menyampaikan tiga sudut pandang masalah, yaitu permasalahan internal Mesir, permasalahan negara-negara Islam di dunia dan permasalahan pemikiran umat yang terinfiltrasi dan mulai keluar dari pemikiran Islam. Ditawarkan juga bagaimana Islam memandang berbagai masalah tersebut dan solusinya dalam konteks Islam itu sendiri.

Kelebihan

Kekurangan

Penutup

Demikian, isi buku Risalah Pergerakan 1 dan 2. Kesimpulan yang dapat kami ambil selaku resensor, buku ini merupakan buku ‘wajib’ untuk menjadi bagian dari referensi para pengemban dakwah dimanapun dan kapanpun. Dalam buku ini, kita akan menemukan pemikiran-pemikiran cemerlang dan jenius dari pendiri gerakan dakwah termasyhur di dunia hingga saat ini, Al-Imam Asy-Syarif Hasan Al-Banna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *