Assalamu’alaikum wr.wb.

Alhamdulillah, telah terselenggaranya hari terakhir dari rangkaian Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah yang ke-3 di Pusat Studi Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (PSJ FIB UI) yang berlangsung dari jam 09.05 WIB sampai 16.00 WIB. Acara ini dimulai dengan membaca basmalah, pembacaan doa oleh Muhammad Ismail dari Forum Studi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FSI FEB UI), menyanyikan lagu Indonesia raya dan mars FoSSEI oleh semua peserta yang menghadiri acara FREKS III.

Acara selanjutnya adalah berupa sambutan-sambutan dimulai dari Muhammad Jatiardi F yang biasa dipanggil Jajang ini selaku Ketua FSI FE UI 2015. Dari penuturan Jajang, bahwa acara FREKS ini akan menjadi acara rutin setiap tahunnya. Untuk itu, kita patut menjadikan ajang ini sebagai silaturahim. Lalu sambutan berikutnya dilanjutkan oleh Syahid Irfan Mubarok selaku Presidium Nasional FoSSEI, dimana ”Kita sudah berkomitmen pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk bisa menjadi Sumber Daya Insani (SDI) yang berkompeten tanpa kehilangan ruh islaminya. Jika kita ingin terus berkembang, acara metodologi riset ini sangatlah penting agar menjadi pembuka wawasan riset dan metodologinya, FoSSEI berpeluang mewarnai cakrawala ekonomi islam ke tingkat nasional dan dunia melalui jurnal supaya tidak kekurangan referensi mengenai ekonomi islam serta cara untuk melindungi dunia dan akhirat. Kita sebagai kader FoSSEI bisa akan lebih baik dengan pelatihan-pelatihan softskill ilmiah. Janganlah putus asa dan kecewa karna ladang dakwah ini masih membutuhkan kita, tidak harus kita berkecimpung di Industri Keuangan Syariah saja, tapi dibidang lain pun bisa”. Sambutan ke-3 dilanjutkan oleh Bapak Banu Muhammad SE. M.SE., selaku Kepala Pusat Ekonomi Bisnis Syariah (PEBS) FEB UI. Bapak Banu menceritakan sejarah mengenai munculnya program studi ekonomi syariah di FEB UI, dari yang animo peminat ekonomi syariahnya sedikit sampai banyak hingga saat ini dan didukung dengan aktifitas mahasiswa yang selalu mangkaji ekonomi syariah serta ada yang menjadi asisten dosen hingga menjadi dosen dan mempengaruhi semua civitas FE UI yang akhirnya terbentuklah program studi ekonomi syariah tahun 2014. Saat jurusan ini dibuka, peminatnya hingga 3999 calon mahasiswa, sedangkan UI hanya bisa menampung 2 kelas saat ini. Dan Pak Banu juga menyarankan agar para ekonom robbani juga melakukan pendekatan kepada para pimpinan kampus untuk membuka program studi ekonomi syariah. Saat ini, hal yang sama juga sedang dilakukan oleh Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) untuk berdiskusi bersama para pimpinan kampus. Cerdas tanpa semangat aja kurang untuk mendakwahkan ekonomi islam ini, begitu juga sebaliknya, semangat tanpa cerdas pun kurang ilmiah dalam dakwah ini.

Setelah sambutan, acara ini dilanjutkan dengan Keynote Speech dari Bapak Ir. Nasirwan Ilyas, MBA selaku Deputy Director Research DPBS OJK. Beliau mengungkapkan bahwa dengan penetrasi Industri Syariah yang belum mencapai 5%, maka dari itu, yang menjadi perhatian kita saat ini adalah bagaimana caranya mengubah pola pendekatan saat ini kepada masyarakat di Indonesia. Pola pendekatan di Indonesia saat ini adalah bottom-up, sedangkan Negara-negara yang berhasil menerapkan syariah di negaranya menggunakan pola pendekatan top-down, dimana pemerintah juga ikut campur dalam perkembangan Industri syariah di segala bidang yang ada, khususnya terhadap sektor keuangan syariah dengan menggunakan instrument keuangan syariah seperti sukuk, dll. Di Malaysia, pemerintah rela berkorban untuk mengurangi pendapatan dalam negerinya (Mengurangi Pajak Daerah) untuk kenajuan Industri Syariah di Negaranya karena harapan jangka panjangnya adalah mereka akan mendapatkan feedback yang tinggi dari Industri tersebut, seperti misalnya, saat ini Malaysia mendapat dukungan besar dari Negara Asia Timur, Qatar, dll dalam Industri Keuangan Syariah. Di daerah pedalaman Indonesia, orang-orang masih belum sadar penuh terhadap Industri Keuangan Syariah dan sangat di marginalkan atau disepelekan. Untuk itu, kita perlu bekerjasama dalam hal mempublikasikan ekonomi syariah di seluruh pelosok Indonesia.

Di Sesi 1 ini, yang bertemakan Metodologi Riset dan Teknik Penulisan Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Keuangan Syariah diisi oleh 2 Pembicara, yaitu Muhammad Soleh Nurzaman selaku Dosen FEB UI dan Muhammad Budi Prasetyo, MSM selaku Dosen dan Peneliti PEBS UI serta dimoderatori oleh Azizon selaku Asisten Dosen dan Peneliti Junior PEBS UI. Dalam seminar ini, Muhammad Soleh Nurzaman yang pada saat itu membahas Teknik Penulisan dan Kiat Pemuatan Paper Ekonomi dan Keuangan Syariah pada Jurnal Ilmiah Bagi Mahasiswa, mengungkapkan bahwa saat ini adanya ketidakseimbangan antara ekonomi-keuangan dan Sumber Daya Manusia Indonesia. Saat ini Industri di Indonesia sudah berkembang, permintaan terhadap Sumber Daya Manusia banyak tapi tidak diimbangi dengan kualitas SDMnya terutama dalam keilmiahan, seperti Kajian, Pelatihan Paper, hal-hal seperti itu di Indonesia masih kurang. Solusinya adalah sering-seringnya kita mengadakan pelatihan-pelatihan tersebut supaya pemuda di Indonesia makin terlatih dalam hal kepenulisan. Dalam seminar ini, Soleh lebih menjelaskan mengenai teknis kepenulisan seperti, syarat menulis ilmiah yang penting memiliki kemauan untuk menulis, selalu memotivasi diri sendiri dengan keinginan-keinginan yang ingin dicapai misalnya, ingin cepat selesai kuliah, namanya ingin dikenal orang banyak, pendapatnya ingin diketahui orang atau insentif dan lain-lain. Memiliki pengetahuan terkait, lazimnya orang yang mempunyai kemauan dan temotivasi karena meiliki pengetahuan, banyak orang pintar tapi tidak bisa menuliskan pemikirannya melalui tulisan. Dan memiliki kemampuan terstandar, dalam menulis pun kita harus menggunakan standar dalam menulis. Kendala menulis biasanya karena males, kendala kemampuan karena kurangnya pengetahuan, tidak tahu apa yang harus atau dapat ditulis untuk penulisan karya ilmiah, kurang menguasai bahasa untuk membahasakan gagasan, dan kurang memahami model dan teknik penulisan karya ilmiah. Sebagai penulis kita juga harus melahirkan karya ilmiah yang orisinil atau yang murni hasil buatan kita sendiri. Dalam menulis online karya ilmiah kita juga harus mencari topik yang sederhana yang paling dikuasai dan paling bisa ditulis dan biarlah berkembang sesuai ide yang mengalir lalu dipublikasikan. Intinya, ketika kita memiliki tulisan ilmiah, sebaiknya dan sangat disarankan untuk dipublikasikan dimana saja (Media online, Koran, Lomba-lomba ilmiah dll).

Pembicara 2, Muhammad Budi Prasetyo, MSM yang menjelaskan mengenai metode penelitian ekonomi dan keuangan syariah. Menurut penuturan Budi, bicara metodologi tentunya akan berkaitan dengan metode yang digunakan, teori yang menjadi referensi dan sampel datanya untuk membuktikan reabilitas dari penelitian kita.

Sesi 2 dilanjutkan sesi sarasehan FoSSEI dengan pembahasan mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja di bidang keuangan syariah yang diisi oleh Nina Mudrikah Hariyati, MM, ALMI, Unggul Purwohedi, PhD selaku Dosen UNJ, dan Ahmad Fauzi Nur dan selaku Praktisi Kepala Cabang Bank Syariah Mandiri. Pada pembicara 1 di sesi kedua ini yaitu Nina Mudrikah Hariyati, beliau memaparkan terlebih dahulu tentang pengalaman berorganisasi dan riwayat kerja. Belajar ekonomi islam merupakan bagian dari syariah yang masuk dalam fikih muamalah. Di indoensia menyebutkan dengan istilah syariah dan diluar dikenal dengan Islamic Banking. Beliau juga menyebutkan pemahaman masyarakat muslim Indonesia terhadap ekonomi islam masih kurang hanya sebatas bagi hasil dan anti riba, dan untuk pendekatan masyarakat non muslim harus melalui benefit apa yang bisa diberikan dari industry ini. Kompeten SDM Indonesia juga masih terlihat minim. Kemudian cara menerapkan ekonomi islam dalam industry keuangan syariah bisa diterapkan dengan memahami ilmunya, kuasai keahliannya dengan memiliki skill yang spesifik dan berperilaku baik. Doing the right in the right way. Muslim harus memiliki etika professional seperti jiwa spiritual, bersikap professional, jujur, berlaku baik, dapat dipercaya, bersikap melayani dan rendah hati. Beliau juga memberikan pandangan asuransi syariah di Indonesia.

Lalu dilanjutkan oleh pembicara kedua yaitu Unggul Purwohedi, Ph.D dengan pembahasan Quo Vadis FoSSEI – Refleksi 2000-2015. Pendirian FoSSEI dilatarbelakangi dengan motivasi memberikan pemerataan kesempatan bagi KSEI, akselerasi perkembangan/pendirian KSEI di perguruan tinggi, dan meningkatkan bargaining position KSEI di tingkat nasional dengan harapan semua KSEI di Indonesia dapat bergerak sejalan.

Inisiasi pendirian FoSSEI dimulai dengan krisis ekonomi 98 dan melihat Bank Muamalat bisa bertahan dengan system bunga 0%, para banker mulai tertarik, kemudian Pak Adiwarman Karim beserta aktivis lainnya melakukan roadshow ke beberapa kampus dipelopori oleh UNDIP, UI, UGM, UNPAD, UB, UNS dan akhirnya mulai bermunculan KSEI di Indonesia.

Pemerataan kesempatan dilihat dari kemudahan akses sumber saya oleh seluruh KSEI, frekuensi dan kualitas program KSEI, komunikasi dan koordinasi, komposisi presnas. Memberi stimulus pendirian KSEI, upgrading monitoring KSEI, mobile unit ketika ada KSEI yang kesulitan, adanya zoning Jawa & non Jawa dll. Kemudian melihatlah ekonomi syariah dengan kacamata orang awam dimana mereka adalah pikirlah dampak/manfaat dari usaha atau berdirinya lembaga ekonomi syariah itu sendiri bukan hanya output, fokuslah pada riil sektor (pengusaha) bukan hanya sektor keuangan saja. Kekuatan masyarakat sangat dibutuhkan dibanding kekuatan dari pemerintah, perkuat aqidah, ilmu dan akhlak.

Dan dari pembicara terakhir kita yaitu oleh Ahmad Fauzie Nur dengan pembahasannya Tantangan & Peluang Dunia Kerja Perbankan Syariah di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa perbankan di Indonesia saja masih sangat rendah di ASEAN bahkan di Indonesia mengalami tantangan kompetisi kerja dikalahkan oleh beberapa Negara di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina baik dari segi pembiayaan dan deposito padahal bila dicermati mayoritas Indonesia adalah muslim. Tapi hal tersebut juga menandakan bahwa perbankan Indonesia akan terus tumbuh. Tantangan SDM di bidang kompetensi terdapat gap sekita 17% pada tahun 2020 pada entry level dan sekitar 56% pada middle management.

Berdasarkan tantangan-tantangan tersebut kesimpulannya adalah dibutuhkan konsolidasi dan sinergi pengembangan SDM (kompetensi) dan pengembangan pasar produk yang belum bervariasi. Kemudian Ahmad Fauzi Nur juga menyebutkan strategi persiapan yang harus dimiliki oleh professional syariah banker. Pilar 1 yaitu segi leadership harus mau belajar memimpin dan dipimpin, berani ambil tanggung jawab yaitu kemampuan memilih anggota tim, bagaimana memotivasi dan mendampingi tim. Belajar leadership bisa dilatih dengan cara aktif berorganisasi. Pilar ke 2 Knowledge, banker syariah juga tidak boleh meninggalkan sisi prestasi akademik (IP minimal 3,25), update terhadap isu perbankan dan aktif diskusi oleh semua kalangan. Pilar ke 3 Skills, rajin ikut pelatihan dan seminar, banyak membaca dan bertanya jangan pernah merasa cepat puas, pelajari dan praktekan ilmu baru. Pilar ke 4 Motivasi, pelajari hikmah biografi orang besar, susun career path, listen more, do more, less talk. Pilar ke 5 Network, perluas pergaulan, jangan eksklusif, confidence dengan memiliki mental juara, utilitas jaringan yang ada bukan menjadi seorang yang oportunitas.

Acara FREKS hari ke 3 ini ditutup dengan persentasi Second 15 dari KSEI SHINE FSI FE UI pada bulan November 2015 nanti, yang dimana saat ini acara Second 15 bukan berupa acara olimpiade seperti biasanya akan tetapi konferensi atau symposium paper yang diambil dari seluruh paper terbaik KSEI se-nasional dan dijurnalkan. Untuk itu, diharapkan untuk semua KSEI di Indonesia mengirimkan delegasinya dan menjadi yang terbaik.

Salamah Chairurani dan Danis Nurul Yunita

Categories:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TEMILNAS XX
Mars FoSSEI