Kompas, Bukan Tameng: Catatan tentang Ekonomi Syariah dan Gelembung Pasar

Kompas, Bukan Tameng: Catatan tentang Ekonomi Syariah dan Gelembung Pasar

Share :

Kompas, Bukan Tameng: Catatan tentang Ekonomi Syariah dan Gelembung Pasar

Kompas, Bukan Tameng: Catatan tentang Ekonomi Syariah dan Gelembung Pasar 

Seorang teman membaca tulisanku sebelumnya, lalu mengirim pesan singkat. “Kalau ekonomi Islam sebagus itu, kenapa saham syariah tetap ikut turun waktu pasar jatuh?”

Aku membaca pesan itu agak lama. Bukan karena pertanyaannya sulit dijawab, tapi karena ia benar. Aneh rasanya menulis tentang ekonomi yang berpijak pada kenyataan, lalu menemukan bahwa kenyataan di lapangan tidak serapi gagasannya. Tapi barangkali di situlah tulisan ini perlu dimulai: dari mengakui bahwa prinsip dan praktik adalah dua hal yang berbeda.

Prinsip yang kuat, pasar yang tetap manusiawi

Mari kita mulai dari yang sederhana. Saham syariah memang melewati penyaringan. Perusahaannya tidak boleh bergerak di bidang yang haram, dan rasio utangnya berbasis bunga dibatasi. Tapi setelah lolos saringan, saham itu tetap diperdagangkan di bursa yang sama, dengan pelaku yang sama, dan harganya tetap digerakkan oleh hal yang sama: ekspektasi.

Sebuah perusahaan teknologi bisa saja lolos kriteria syariah, lalu harganya melambung karena gelombang antusiasme terhadap AI. Ketika antusiasme itu surut, harganya ikut jatuh. Tidak ada yang salah dengan kriteria penyaringnya. Hanya saja, penyaring itu menjawab pertanyaan “apa bisnisnya halal?”, bukan “apakah harganya wajar?”. Dua pertanyaan itu berbeda. Dan gelembung lahir dari pertanyaan yang kedua.

Ketika raganya syariah, tapi rasanya konvensional

Ada lagi yang lebih halus. Akad jual beli seperti murabahah pada dasarnya mengikat uang ke barang: bank membeli barang, lalu menjualnya kembali dengan margin yang disepakati. Di atas kertas, ini cara yang rapi untuk memastikan uang tidak berputar tanpa dasar.

Tapi dalam praktik, para ahli sendiri sering mengingatkan bahwa produk semacam ini bisa menjadi sekadar kemasan. Barangnya berpindah tangan dalam hitungan menit, marginnya mengikuti suku bunga acuan, dan bagi nasabah, rasanya tidak jauh berbeda dari kredit biasa. Strukturnya syariah, tapi jiwanya tidak selalu.

Ulama menyebut persoalan ini dengan banyak istilah. Intinya satu: mematuhi bentuk belum tentu mematuhi maksud.

Di mana “rem alami” itu bocor

Dalam tulisan sebelumnya, aku menyebut prinsip underlying sebagai semacam rem alami. Aku masih percaya itu. Tapi rem hanya bekerja kalau ada yang menginjaknya.

Larangan riba, gharar (ketidakjelasan berlebihan), dan maysir (spekulasi murni) adalah rem yang nyata. Jika dijalankan sungguh-sungguh, ia memang menutup banyak jalan menuju gelembung. Tapi ia dijalankan oleh manusia: oleh bankir, regulator, pengawas syariah, dan investor. Dan manusia selalu pandai mencari celah.

Jadi bocornya bukan di prinsipnya. Bocornya ada di jarak antara prinsip dan orang yang menjalankannya.

Lalu, apa yang tersisa dari argumenku?

Cukup banyak, kurasa. Hanya saja ia perlu dirumuskan ulang.

Ekonomi Islam tidak kebal gelembung. Tidak ada sistem yang kebal terhadap keserakahan dan euforia, karena keduanya bukan bug dalam sistem, melainkan bagian dari manusianya.

Yang ia tawarkan lebih jujur dan lebih sederhana: sebuah kompas. Ia memberi pertanyaan yang terus bisa diajukan, di mana pun dan kapan pun: ini ditopang oleh apa? ini bermanfaat untuk siapa? siapa yang menanggung risikonya?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menjamin pasar tidak jatuh. Tapi ia membuat kita lebih mudah mengenali saat sesuatu mulai melayang.

Mungkin begitu cara melihatnya. Ekonomi Islam bukan tameng yang membuat kita tak tersentuh krisis. Ia lebih seperti kebiasaan untuk tidak berhenti bertanya, bahkan ketika semua orang di sekitar kita sedang terlalu gembira untuk bertanya.

Dan di warung kopi yang tetap ramai pagi itu, barangkali itulah pertanyaan paling sederhana yang bisa kita bawa pulang: apakah yang kita pegang hari ini benar-benar ada?


Alfino Sindu Prasetya

 

Alfino Sindu Prasetya

FoSSEI Nasional

Editor : Rifka Aulia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *